Thursday, January 10, 2013

Siapa Bilang SABAR Itu Ada Batasnya?

Bismillahirrahmanirrahim.

Setiap manusia pasti mengalami ujian hidup, entah itu berupa musibah besar atau musibah kecil. Jiwa dan hati seseorang berbeda tergantung musibah yang sedang dihadapi. Namun tidak sedikit pula manusia enggan ketika menerima musibah atau ujian yang diterima. Para Nabi-Nabi terdahulu semua menerima ujian yang diberikan Allah. Musibah tersebut disesuaikan dengan kondisi dan situasi saat itu.

Sabar memang berat dan sabar memanglah tidak terasa faedahnya apabila bahaya dan kesulitan belum datang. Apabila datang suatu marabahaya atau suatu musibah dengan tiba-tiba, dengan tidak disangka-sangka, memang tim­bullah perjuangan dalam batin. Perjuangan yang amat hebat. Tarik menarik di antara kegelisahan dengan ketenangan.

Kita gelisah, namun hati kecil kita sendiri tidaklah senang akan kegelisahan itu. Suatu waktu orang yang belum juga menang ketenangannya atas kegelisa­hannya bisa jadi memandang gelap hidup ini, sehingga dari sangat gelapnya mau rasanya mati saja. Mungkin dengan mati kesulitan itu akan habis, lalu dia bunuh diri.

"Wahai orang-orang yang beriman ! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah:153).

Jika kita memahami petikan ayat di atas, apabila ketenangan telah diperteguh dengan shalat, kemenangan pastilah datang. Sabar dan shalat; keduanya mesti sejalan. Apabila kedua resep ini telah dipakai dengan setia dan yakin, kita akan merasa bahwa kian lama hijab dinding kian terbuka. Berangsur-angsur jiwa kita terlepas dari belenggu kesulitan itu, sebab Tuhan telah berdaulat dalam hati kita.


"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar" Apakah yang engkau takutkan kepada hidup ini, kalau Allah telah men­jamin bahwa Dia ada beserta engkau? Orang yang ditimpa oleh suatu percobaan yang membuat jiwa jadi gelisah, kemudian berpegang teguh kepada ayat ini, membenteng diri dengan sabar dan shalat, dengan berangsur timbullah fajar harapan dalam hidupnya. Kelihatan dari luar dia dalam kesepian, padahal dia merasa ramai, sebab dia bersama Tuhan. Belenggu biar dipasang pada tangannya, namun jiwanya merasa bebas. Pagar besi membatasi jasmaninya dengan dunia luar, tetapi ayat-ayat al-Quran membawa jiwanya membumbung naik melintas ruang angkasa dalam mengerjakan shalat. Lantaran ini ketakutanpun hilanglah dan timbul  keberanian .


Loh...terus kalau ndak kuat sabar gimana donk? 

"Ya sabar lagi...gitu aja kok repot :D "


Sudah jelas sampai akhir hayatpun kita dituntut untuk bersabar serta dibarengi dengan sholat, tidak ada alasan untuk tidak sabar. Kata "Sabar itu ada batasnya" merupakan alasan bagi orang yang lemah. Sebagai seorang muslim tidak ada kata-kata seperti itu, apapun musibah dan ujian yang sedang kita hadapi. 

Semoga dengan catatan yang saya tulis disini membuat saya khususnya dan pembaca berkenan berbenah dan menjadikan kesabaran sebagai benteng dan modal untuk menghadapi ujian yang lebih besar lagi dan berujung ke Surga Nya. 

Semoga Allah selalu memberikan Petunjuk dan Ridha Nya kepada kita semua. Allahumma Amin.


Semoga bermanfaat.

No comments:

Post a Comment