Wednesday, February 27, 2013

Pendidikan : Apabila Uang Sudah Menjadi Tuhan

Bismillahirrahmanirrahim.


Siapa sih yang ndak mau uang? Sudah pasti semua orang yang masih "waras" membutuhkan yang namanya uang. Banyak di antara kita yang bekerja siang dan malam demi uang, bahkan anak kecilpun merengek - rengek minta uang untuk membeli jajanan. Kita tidak memungkiri bahwa kita membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun bukan berarti kita lantas menjadikan semua hal menjadi sumber penghasilan uang tanpa melihat apakah hal itu dilarang Allah atau tidak. 

Banyak juga yang melakukan kezaliman kepada alam (merusak alam), menzalimi hak2 manusia lain, hanya untuk memuaskan keinginannya menyukseskan suatu proyek, yang ujung2nya juga uang. Ada juga orang yang tega mempermak sedemikian besar anggaran proyek pembangunan umum, agar banyak "saldo" yang masuk kantongnya. Ada juga yang tega memanfaatkan kekuasannya untuk "mengeruk" banyak uang dgn korupsi. Bahkan yang lebih parah ada orang tega membunuh orang tuanya, atau saudaranya, atau temannya, gara2 tidak dipenuhi keinginannya. Jadi, hati2lah dalam memikirkan masalah uang dan harta, karena bisa jadi itu menjadi hal yang kita ambisikan sampai mengalahkan ketaatan kita pada Allah.

Tanpa disadari atau tidak orang semacam itu bukan lagi takut dan taat kepada Allah, mereka lambat laun sudah menyembah dan taat kepada uang. Diantara penyebab tingginya tingkat kejahatan, seperti pencurian, perampokan, penipuan dan berbagai perbuatan kriminal yang merugikan masyarakat disebabkan karena tingginya tingkat pengangguran yang juga juga berujung pada tingginya tingkat kemiskinan. Kemiskinan yang tanpa disertai ketabahan dan kesabaran apalagi tanpa didasari oleh nilai-nilai keimanan dan moral yang baik, maka akan memunculkan orang-orang yang memilih jalan pintas dan menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan.

Diantara penyebab tingginya tingkat kejahatan, seperti pencurian, perampokan, penipuan dan berbagai perbuatan kriminal yang merugikan masyarakat disebabkan karena tingginya tingkat pengangguran yang juga juga berujung pada tingginya tingkat kemiskinan. Kemiskinan yang tanpa disertai ketabahan dan kesabaran apalagi tanpa didasari oleh nilai-nilai keimanan dan moral yang baik, maka akan memunculkan orang-orang yang memilih jalan pintas dan menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan.

 “Carilah kebahagiaan hidup di akhirat itu dengan apa-apa yang dikaruniakan Tuhan kepadamu dan jangan lupakan porsimu dari kehidupan dunia.” (QS. Al-Qashash: 77).

Apabila kebutuhan dan uang kita sudah tercukupi, apakah ini menjamin kita bahagia ? Tidak ...!!! Ada sebagian orang yang bergelimang harta dan memanfaatkan uang nya untuk menindas yang lemah. Hak dan kedamaian orang yang membutuhkan uang justru dibeli. Kita semua sudah pernah melihat penindasan kepada kaum yang lemah, seperti penindasan negara barat di timur tengah. Sebagai remaja Muslim alangkah indahnya jika kita memahami semua Hidayah yang Allah berikan kepada kita, bersyukur akan hidayah Nya merupakan benteng kita ketika kesulitan hidup sedang melanda kita.

Sebagai renungan kehidupan kita, janganlah kita menyalah gunakan uang sebagai alat untuk memperalat dan menindas kaum yang lemah, begitu pula janganlah kita mencari uang dengan jalan pintas. Uang bukanlah satu-satunya jaminan kita untuk hidup bahagia. Jangan sampai uang yang mengendalikan kita, yang akhirnya kita egois dan menyombongkan diri. Apalagi sampai memutuskan tali silaturrahmi terhadap saudara-saudara kita. ( Naudzubillah)

Selagi kita cukup, alangkah bijak jika kita membantu keluarga, saudara, sahabat dan anak yatim ( panti asuhan ) untuk bisa merasakan sedikit kebahagiaan. Toh di akhirat nanti merekalah yang meringankan / memudahkan ketika kita di hisab di yaumil qiyamah kelak. Amin.

Semoga bermanfaat

No comments:

Post a Comment